NET 9|SUBANG_Apa sebenarnya motivasi seorang perempuan memilih menjadi pekerja seks komersial (PSK)
Kebanyakan selain karena masalah ekonomi dan keluarga, dunia PSK memudahkan seseorang mendapatkan uang dengan cara instan. Akhirnya mereka ketagihan dan sulit berhenti dari dunia hitam ini.
Di tempat prostitusi kelas bawah seperti di Janem, Pantura, Kabupaten Subang, mereka bisa mendapat Rp1 juta dalam semalam.
Hal itu diakui salah seorang PSK bernama D. Dia sudah menjalani “profesi” ini sudah hampir 10 tahunan.
Perempuan asal Subang itu sebelumnya mengaku bekerja di Tanjung Priuk sebagai pelayan di salah satu karaoke.
Namun akibat berpisahanya dengan suami,akhirnya D memilih pekerjaan ini berawal ajakan temannya.
“Waktu itu abis udahan (cerai) sama suami, diajak temen, sudahlah di sini aja biar deket katanya, akhirnya saya mau,” jelasnya kepada NET 9 minggu ( 1/12/2019).
Ia menjelaskan bahwa saat itu ia tidak mempunya pilihan pekerjaan lain. Selain karena pendidikan yang rendah ia juga mengku tidak memiliki skill yang mumpuni untuk bekerja diprofesi lain. Namun saat itu karena harus memenuhi nafkah untuk seorang anaknya juga orang tuanya. Akhirnya ia memutusan untuk bekerja di tempat tersebut. “Akhirnya saya kerja di sini dan memang alasan utamanya soal ekonomi. Saya ini orang enggak punya, jadi tulang punggung keluarga,” bebernya.
Ia mengatakan bahwa saat ini ia tinggal bersama ibunya serta anaknya yang kini duduk di kelas 4 SD. D mengatakan, bahwa ibunya mengetahui pekerjaannya hanya sebatas pemandu karaoke,Tutur Dia".
“Kalau anak tahu saya kerja, tapi cuma tahunya kerja. Jadi kalu pulang atau mau pergi pasti bilang mama mau kerja,” ujarnya.
D mengungkapkan, pengunjung yang datang atau yang pernah ia layani itu bermacam-macam. Mulai dari supir, warga setempat hingga anak-anak muda.
Dalam hal melayani tamu, PSK melayani berdasarkan pilihan tamu. Ada yang sering dapat tamu, ada juga yang jarang. Persaingan tamu inilah yang kadang menjadi ribut antar PSK.
“Gimana tamunya aja mau yang mana, memang sih begitu datang kita sambut tapi ya gimana tamunya aja. Jadi kadang ada yang nerima tamu banyak ada yang jarang. Nah ributnya kadang di situ, tapi bisa diselesaikan,” jelasnya.
Pantauan NET 9, ia mengungkapkan bahwa dalam semalam ia bisa mendapat hingga Rp 1 Juta. Namun kondisinya dengan saat ini sangat berbeda. “Kalau sekarang mah karena lagi sepi, dapat seratus ribu aja susah. Ya bisa dibilang 3 tahun ini sudah mulai sepi,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam sehari ia paling maksimal hanya menerima 2 tamu. Namun beda dengan rekanya yang lain bisa sampai 4-5 tamu dalam sehari jika dalam kondisi ramai.
“Kalau makan mah bisalah soalnya dikasih, tapi soal nafkah untuk keluarga ya pusing, paling minjem uang ke warung kalau lagi sepi, ngutang,” ungkapnya.
Ia kembali melanjutkan bahwa selama ini ia mengaku belum pernah mendapat pengalaman buruk. Namun dari rekannya ada saja pengalaman seperti hilang hp, dompet atau pelanggan kabur.
“Sejauh ini blm pernah ada ya, saya ini tipenya galak sih a, pasti inget aja soal bayaran mah, enggak pernah lupa,” ucapnya sambil tertawa.
Pun misalnya dalam menjaga kesehatan, ia selalu menjaga kesehatan dengan minum jamu serta melakukan pemeriksaan secara rutin yang dilakukan di Janem. Baik dengan Yayasan Resik atau dari Dinas Kesehatan.
Lalu mengenai tarif, D menyampaikan bahwa saat ini ia menerima paling kecil Rp200 hingga Rp 1 Juta. Namun besaran tersebut bergantung pada tamu atau pelanggan.
“Paling kecil 200 kalau lagganan bisa sampai 700, itu sudah bersih. Kalau kamar, minum atau jajan lain lagi,” bebernya.
Ia menjelaskan bahwa untuk tarif kamar sendiri juga disesuaikan dengan keadaan warung serta fasilitas yang ada. Namun untuk di warung tempatnya tersebut, kamar disewakan dengan harga Rp30 ribu atau Rp 100 ribu jika sampai bermalam.
saat ini tamu yang datang kebanyakan berada di atas jam 12 malam atau menuju pagi. Namun jika malam minggu tiba biasanya sejak sore sudah banyak anak muda yang datang. “Sekarang mah banyaknya pagi (dini hari), kalau malam minggu mah biasanya anak-anak muda,” jelasnya.
Ketika ditanyakan soal kemungkinan untuk hidup normal dan kemungkinan menikah kembali, ia tidak menampik hal tersebut. “Pasti pengenlah cuma ya belum ada jodohnya aja. Soal pekerjaan jugakan perlu ada lah pelatihan-pelatihan dulu, sekarang kan gak bisa modal ijazah doang diterima kerja,” pungkasnya.
Liputan : Korwil jabar

